Minggu, 08 April 2012

jurus ngawur tapi manjur


semtember 2010 publik di Indonesia terenyak
oleh keberanian seorang prajurit TNI
AU mengkritik kepemimpinan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dengan
pedasnya Adji Suradji, saat itu berpangkat kolonel,
mengatakan SBY tak mempunyai keberanian untuk
memberantas korupsi yang menggurita.
Kontan, tulisan Adji itu mengundang reaksi keras,
terutama dari pimpinan TNI. Ia ditegur. Kader partai
Demokrat menuduh si prajurit disetir oleh ‘sutradara’
tertentu. Presiden SBY sendiri juga tersinggung,
karena seorang prajurit tak berhak mengkritik
atasannya.
“Karena itu bertentangan dengan sumpah prajurit,
dengan UU TNI, di mana disebutkan dengan gamblang
kode etik perwira,” kata Presiden.
Dua tahun lewat, wacana tentang kepemimpinan
itu kembali mengemuka. Namun, yang muncul sekarang
ini sama sekali bertolak belakang dengan gambaran
Adji tentang sosok Presiden yang dikritiknya.
Kini muncul pemimpin yang berani, bertindak
cepat, menggebrak, penuh kejutan dan terobosan.
Cara-cara yang dilakukan pemimpin itu bisa saja
terlihat ‘nyeleneh’, keluar dari aturan resmi. Namun
metodenya memiliki daya perubahan positif yang
luar biasa.
Adalah aksi dua orang pemimpin, Dahlan Iskan
dan Joko Widodo, yang menjadi pemicunya. Dahlan
adalah Menteri BUMN, sementara Joko merupakan
Walikota Solo yang kini maju sebagai calon gubernur
DKI Jakarta.
Pagi-pagi, di pintu Tol Dalam Kota Jakarta, Dahlan
‘mengamuk’ melihat antrean panjang kendaraan.
Tidak cuma ngamuk, ia juga membuka loket tol yang
masih tutup dan membiarkan mobil melintas secara
gratis. Aksi mantan Dirut PLN itu dilakukan karena
geram instruksinya tak dijalankan PT Jasa Marga
Tbk.
Pascakejadian itu, Jasa Marga kalang kabut. Rapat
digelar. Petugas tol yang terlambat masuk kerja
di pintu Semanggi I, termasuk kepala shift, dikenai
surat peringatan (SP). Antrean kendaraan di pintu tol
pun ditertibkan. Sehari kemudian, tak tampak lagi
adanya barisan berpuluh-puluh meter mobil di pintu
Tol Dalam Kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar