Lalu, Jokowi, panggilan akrab
Joko Widodo,
sosok pemimpin daerah yang
fenomenal. Solo adalah
sebuah kota kecil yang
masalahnya tidak kecil.
Di sini, masalah kecil saja
bisa jadi masalah besar,
tukang becak ribut bisa jadi
demo dan rusuh. Pada
Mei 1998 misalnya, kota ini
dilanda rusuh besar.
Pendek kata, kerusuhan gamang
terjadi di Solo.
Tapi di tangan Jokowi kota Solo
menjadi adem dan
tentram. Berbagai kebijakan
Jokowi juga mampu
membuat kota kecil di Jawa
Tengah itu berbenah.
Selama lebih dari tujuh tahun
ia memimpin, banyak
tak tertata dengan baik. Jokowi
melindungi kota,
budaya, dan masyarakat Solo
dari arus deras modernisme
meski ia harus melawan Gubernur
Jawa Tengah
Bibit Waluyo.
Kesuksesan Jokowi itu membuat
banyak orang
percaya ia mampu memecahkan
berbagai masalah
akut di ibukota. Bersama
pasangannya Basuki Tjahaja
Purnama alias Ahok, Jokowi
melangkah dengan
pasti. Ahok juga dikenal
sebagai sosok pekerja keras.
Semasa menjadi Bupati Belitung
Timur (2005-2010),
ia juga mempunyai segudang
prestasi.
Guru Besar Ilmu Manajemen
Universitas Indonesia
(UI) Rhenald Kasali menilai
sosok seperti Dahlan
Iskan dan Jokowi itulah yang
kini dirindukan oleh
masyarakat. Masyarakat sudah
bosan dengan pemimpin
yang cuma pandai
beretorika, birokratik, dan
tidak berani mengambil
risiko.
Menurut Rhenald,
masyarakat
juga amat jenuh
dengan para pemimpin
yang gemar mengumbar
janji, tetapi ternyata pasif,
alias tak berbuat apa-apa
untuk kemajuan masyarakat.
Setidaknya ada lima ciri pemimpin
ideal yang
disebut Rhenald sebagai
pemimpin transformatif.
Yaitu, pemimpin yang
memprioritaskan masyarakat,
pandai berkomunikasi dengan
orang yang dipimpin,
dan sering turun ke lapangan.
Kemudian, pemimpin
yang mempunyai energi cukup
besar, dan mampu
memecahkan masalah ruwet dengan
solusi sederhana.
“Karakter itu sudah ada
dimiliki Jokowi dan Dahlan
Iskan,” ucap Rhenald kepada majalah
detik.
Rhenald melanjutkan, Dahlan
Iskan dan Jokowi
adalah pemimpin yang berasal
dari kalangan entrepreneur.
Kehidupan ekonomi mereka sudah
mapan.
Orang-orang seperti itu akan
mengerahkan seluruh
kemampuannya untuk institusi
yang dipimpinnya.
Apa pun risikonya. Selain itu,
kapasitas yang dimiliki
akan mereka gunakan seoptimal
mungkin untuk me-layani masyarakat.
“Misal yang terjadi
pada Dahlan Iskan. Dia
bilang ‘kalau Jasa Marga
merasa dirugikan, saya
yang bayar’, itu memperlihatkan
dia lebih mengutamakan
kepentingan
rakyat,” katanya.
Di samping seorang
pengambil keputusan
(decision maker), Rhenald
menilai Jokowi juga
pemimpin yang teguh
memegang keyakinannya.
Hal itu terlihat ketika Jokowi
bersilang pendapat
dengan atasannya, Gubernur
Jateng Bibit Waluyo. Di
mata masyarakat, Jokowi
melawan. Tapi sebetulnya,
menurut Rhenald, Jokowi
berusaha untuk melakukan
apa yang diyakininya sebagai
kebenaran.
“Keteguhan seperti itu yang
juga dirindukan masyarakat,”
ucapnya.
Budayawan Sujiwo Tejo melihat
cara-cara yang
dipakai oleh Dahlan Iskan dan
Jokowi itu ngawur.
Namun, ngawur di sini berarti
sesuatu yang tidak
umum sebagaimana dilakukan
banyak pejabat. Lalu,
tindakan ngawur itu tercetus
dari seorang pemimpin
karena merasa apa yang
dilakukannya benar. Hasilnya
pun juga tidak salah.
Tindakan Dahlan Iskan di jalan
tol itu, kata Mbah
Tejo, sapaan akrabnya, mampu
memberikan shock
therapy. Di samping itu, aksi
yang dilakukan Dahlan
sebelumnya, seperti menaiki
kereta api ke Bogor
untuk rapat kabinet, dapat
menjadi gerakan social
untuk mencintai
untuk mencintai
modal transportasi
tersebut.
Bila Dahlan lebih
eksplosif dengan
gaya Jawa Timurnya,
Sujiwo Tejo
memandang Jokowi
adalah tipe ‘ngawur’
tapi tetap menjaga
kesantunan. Misalnya,
ketika Jokowi
merelokasi hampir
seribu pedagang
kaki lima di Solo
tanpa kekerasan. Ngawur karena
benarnya Jokowi
itu, menurut Sujiwo juga
ditunjukkan saat menghadapi
Gubernur Jateng.
“Makanya nanti kalau Jokowi
jadi DKI 1, ada dua
lah yang ngawur karena benar di
Jakarta ini. Di Kabinet
satu, di Merdeka Selatan satu,”
ucap budayawan
yang baru saja meluncurkan buku
Ngawur karena
Benar ini.
Namun, pemimpin Pondok
Pesantren Tebu Ireng,
Jombang, KH Salahuddin Wahid
mengingatkan, agar
kita tidak mudah gumon. Seorang
pemimpin akan
teruji kualitasnya setelah
ditempa selama bertahun-
tahun. Tak cukup menilai
kemampuan seorang
pemimpin dari kementerian yang
dipimpinnya, atau
dari keberhasilannya memimpin
sebuah kota kecil.
“Jangan silaulah, buktikan dulu
beberapa tahundepan,” tegas Gus Solah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar