Rabu, 04 April 2012

 ke
Lalu, Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo,
tampil ke pentas Pilgub DKI Jakarta. Jokowi adalah
sosok pemimpin daerah yang fenomenal. Solo adalah
sebuah kota kecil yang masalahnya tidak kecil.
Di sini, masalah kecil saja bisa jadi masalah besar,
tukang becak ribut bisa jadi demo dan rusuh. Pada
Mei 1998 misalnya, kota ini dilanda rusuh besar.
Pendek kata, kerusuhan gamang terjadi di Solo.
Tapi di tangan Jokowi kota Solo menjadi adem dan
tentram. Berbagai kebijakan Jokowi juga mampu
membuat kota kecil di Jawa Tengah itu berbenah.
Selama lebih dari tujuh tahun ia memimpin, banyak
perubahan terjadi di Solo, kota yang sebelumnya
tak tertata dengan baik. Jokowi melindungi kota,
budaya, dan masyarakat Solo dari arus deras modernisme
meski ia harus melawan Gubernur Jawa Tengah
Bibit Waluyo.
Kesuksesan Jokowi itu membuat banyak orang
percaya ia mampu memecahkan berbagai masalah
akut di ibukota. Bersama pasangannya Basuki Tjahaja
Purnama alias Ahok, Jokowi melangkah dengan
pasti. Ahok juga dikenal sebagai sosok pekerja keras.
Semasa menjadi Bupati Belitung Timur (2005-2010),
ia juga mempunyai segudang prestasi.
Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia
(UI) Rhenald Kasali menilai sosok seperti Dahlan
Iskan dan Jokowi itulah yang kini dirindukan oleh
masyarakat. Masyarakat sudah bosan dengan pemimpin
yang cuma pandai
beretorika, birokratik, dan
tidak berani mengambil
risiko.
Menurut Rhenald,
masyarakat
juga amat jenuh
dengan para pemimpin
yang gemar mengumbar
janji, tetapi ternyata pasif,
alias tak berbuat apa-apa
untuk kemajuan masyarakat.
Setidaknya ada lima ciri pemimpin ideal yang
disebut Rhenald sebagai pemimpin transformatif.
Yaitu, pemimpin yang memprioritaskan masyarakat,
pandai berkomunikasi dengan orang yang dipimpin,
dan sering turun ke lapangan. Kemudian, pemimpin
yang mempunyai energi cukup besar, dan mampu
memecahkan masalah ruwet dengan solusi sederhana.
“Karakter itu sudah ada dimiliki Jokowi dan Dahlan
Iskan,” ucap Rhenald kepada majalah detik.
Rhenald melanjutkan, Dahlan Iskan dan Jokowi
adalah pemimpin yang berasal dari kalangan entrepreneur.
Kehidupan ekonomi mereka sudah mapan.
Orang-orang seperti itu akan mengerahkan seluruh
kemampuannya untuk institusi yang dipimpinnya.
Apa pun risikonya. Selain itu, kapasitas yang dimiliki
akan mereka gunakan seoptimal mungkin untuk me-layani masyarakat.
“Misal yang terjadi
pada Dahlan Iskan. Dia
bilang ‘kalau Jasa Marga
merasa dirugikan, saya
yang bayar’, itu memperlihatkan
dia lebih mengutamakan
kepentingan
rakyat,” katanya.
Di samping seorang
pengambil keputusan
(decision maker), Rhenald
menilai Jokowi juga
pemimpin yang teguh
memegang keyakinannya.
Hal itu terlihat ketika Jokowi bersilang pendapat
dengan atasannya, Gubernur Jateng Bibit Waluyo. Di
mata masyarakat, Jokowi melawan. Tapi sebetulnya,
menurut Rhenald, Jokowi berusaha untuk melakukan
apa yang diyakininya sebagai kebenaran.
“Keteguhan seperti itu yang juga dirindukan masyarakat,”
ucapnya.
Budayawan Sujiwo Tejo melihat cara-cara yang
dipakai oleh Dahlan Iskan dan Jokowi itu ngawur.
Namun, ngawur di sini berarti sesuatu yang tidak
umum sebagaimana dilakukan banyak pejabat. Lalu,
tindakan ngawur itu tercetus dari seorang pemimpin
karena merasa apa yang dilakukannya benar. Hasilnya
pun juga tidak salah.
Tindakan Dahlan Iskan di jalan tol itu, kata Mbah
Tejo, sapaan akrabnya, mampu memberikan shock
therapy. Di samping itu, aksi yang dilakukan Dahlan
sebelumnya, seperti menaiki kereta api ke Bogor
untuk rapat kabinet, dapat menjadi gerakan social
untuk mencintai
modal transportasi
tersebut.
Bila Dahlan lebih
eksplosif dengan
gaya Jawa Timurnya,
Sujiwo Tejo
memandang Jokowi
adalah tipe ‘ngawur’
tapi tetap menjaga
kesantunan. Misalnya,
ketika Jokowi
merelokasi hampir
seribu pedagang
kaki lima di Solo
tanpa kekerasan. Ngawur karena benarnya Jokowi
itu, menurut Sujiwo juga ditunjukkan saat menghadapi
Gubernur Jateng.
“Makanya nanti kalau Jokowi jadi DKI 1, ada dua
lah yang ngawur karena benar di Jakarta ini. Di Kabinet
satu, di Merdeka Selatan satu,” ucap budayawan
yang baru saja meluncurkan buku Ngawur karena
Benar ini.
Namun, pemimpin Pondok Pesantren Tebu Ireng,
Jombang, KH Salahuddin Wahid mengingatkan, agar
kita tidak mudah gumon. Seorang pemimpin akan
teruji kualitasnya setelah ditempa selama bertahun-
tahun. Tak cukup menilai kemampuan seorang
pemimpin dari kementerian yang dipimpinnya, atau
dari keberhasilannya memimpin sebuah kota kecil.
“Jangan silaulah, buktikan dulu beberapa tahundepan,” tegas Gus Solah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar